Mutiara Hadits

 

Ingatlah kepada-Ku dengan mentaati-Ku, Aku akan ingat kepadamu dengan pengampunan-Ku. Barangsiapa ingat kepada-Ku seraya ia berta'at, maka patutlah Aku ingat kepadanya dengan pengampunan-Ku dan barangsiapa ingat kepada-Ku seraya bermaksiat, maka patutlah Aku ingat kepadanya dengan kebencian.

(HR. Ad Dailami dan Ibnu Asakir)

 

Mutiara Hikmah

 

Keseluruhan sifat zuhud terletak diantara dua kalimat dalam Al Qur'an, yaitu firman Allah SWT : ...agar kamu tidak berdukacita atas apa apa saja yang luput darimu dan tidak bersukaria atas sesuatu yang diberikan oleh-Nya kepadamu...(QS 57:23). Maka barangsiapa tidak berduka cita atas sesuatu yang telah pergi dan tidak bersukaria karena sesuatu yang datang, sesungguhnya ia telah mencakup sifat zuhud dengan sesempurnanya

 

 Humor Sufi

 

 

 

 

 

KISAH PEMUDA BER-IBU-BAPAK-KAN BABI

 

Dalam sebuat riwayat dikisahkan, bahwa suatu hari Nabi Musa as. telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan bersama dengan aku?". Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa as turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan menuju tempat yang telah diberitahukan kepadanya. Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya beliau as sampai ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa warga, beliau as berhasil bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam, beliau as dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan rumah itu tidak melayani Nabi Musa as. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalamnya. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu dituntunnya dengan cermat. Nabi Musa as terkejut melihatnya. "Apa ini?", kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.

Babi betina itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu, babi betina tersebut dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar kembali ke dalam kamar. Tidak lama kemudian, dia keluar sekali lagi dengan membawa seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta dicium dengan penuh kasih sayang. Babi itupun kemudian dihantar kembali ke bilik.

Selesai mengerjakan itu semua, barulah dia melayani Nabi Musa as. "Wahai saudara! Apa agama kamu?", tanya Nabi Musa as. "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu yaitu agama Islam. "Lalu,  mengapa kamu memelihara babi? Bukankah Kita dilarang untuk berbuat begitu." tanya Nabi Musa as kembali.

"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu, "Sebenarnya kedua babi itu adalah ayah-ibu kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang bodoh rupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusan mereka dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajibanku sebagai anak. Setiap harinya, aku berbakti kepada kedua ibubapaku sebagaimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.

"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diberi ampun. Aku bermohon agar Allah menukarkan kembali wajah mereka menjadi manusia, tetapi sampai saat ini Allah masih belum mengabulkan permintaanku", jelas pemuda itu lagi.

Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai Musa, inilah orang yang akan bersama kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepada kedua ibubapanya. kedua orangtuanya yang sudah buruk dengan rupa babi sekalipun, dia tetap berbakti kepada mereka. Oleh karena itulah Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."

  
© Copyright 2006 berdakwah.net.ms   
Semua materi dalam situs boleh dipergunakan kembali untuk tujuan berdakwah